RSS

ARTI PERSAHABATAN

01 Feb

ARTI PERSAHABATAN

Friends Myspace Comments

Sebuah jalinan yang tak disengaja menjadikan sesuatu yang abadi. Seperti sebuah kisah persahabatan 4 bocah perempuan berumur 6 tahun yaitu Andin, Dita, Reni dan Siska. Berawal dari tak disengaja Reni mendengar percakapan antara Andin, Dita dan Siska yang ingin bermain bareng setelah pulang sekolah. Tahun 1998 saat itu. “Siska, nanti aku ma Dita mau ke rumah kamu ya…” kata Andin dengan semangat. “Boleh aja… Nanti jam berapa?” tanya Siska. “Jam berapa ya…Dika nanti kita main ke rumah ke rumah Siska jam berapa?” ucap Andin pada Dita yang sedang mengobrak-abrik isi tasnya. “Apa? Ooo…mau ke rumah Siska? Aduh…aku gak jadi ke sana.” Tiba-tiba Dita membatalkan perjanjian awal yang telah dibuatnya dengan Andin. “Ya…kamu tu gimana sih. Kamu yang ngajak aku, eh, sekarang dibatalin aja.” Andin mengeluh. “Ya…maaf. Aku ingat kalau sekarang aku harus ke dokter gigi ma mama.” Kata maaf Dita seperti tak bersalah.

“Jadi gimana nih, jadi nggak, main ke rumahku?” tanya Siska memastikan. “Kalau Dita gak jadi ke rumah kamu ya…aku juga batal. Masak aku ke sana sendirian kan takut.” Kata Andin memberi alasan.

Dari jauh Reni menghampiri ketiga bocah kecil yang sedang berbincang itu.

“Hai…” Kata Reni mengawali. Ketiga bocah itu hanya tersenyum. Dita menyenggol Andin sambil berbisik. “Din…siapa itu?” tanya Dita penasaran.

“Gak tahu tu. Tapi itukan teman sekelas kita yang duduknya paling depan…”

“Oooo…”

“Namaku Renia…” sambil menyodorkan tangannya ke arah Siska.

“Namaku Siska.” Siska membalas.

“Reni…”

“Andin”

“Reni…”

“Dita…kamu rumahnya mana?”

“Aku tetangga kamu. Mungkin kita nggak pernah ketemu. Karena aku nggak pernah keluar rumah.” Kata Reni menjelaskan.

“Ooo…gitu.”

Dari percakapan dan perkenalan tersebut 4 bocah perempuan itu bersahabat. Hampir setiap hari mereka bermain bersama.

Tahun ke-11 atau saat mereka berumur 17 tahun persahabatan itu tetap terjalin erat. Sama seperti saat bocah dulu. Mereka main bareng, shopping bareng, sampai gosip apapun yang baru didengar mereka. Namun semua berubah saat salah satu dari mereka mempunyai teman cowok, yaitu Reni. Ini pertama kali dia berpacaran. Ketiga temannya tahu tentang itu, karena merekaselalu curhat bareng.

“Din, si Rian nembak aku…” kata Dita seneng.

“Bener Ta… Selamat ya…” Andin menyambut gembira. Reni dan Siska juga mengucapkan selamat pada sahabatnya itu. Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Mereka tetap jalan bareng, curhat bareng, pokoknya semua dikerjakan mereka bareng. Namun suatu saat.

“Dita…nanti jam 3 kita jalan yuk..?” ajak Siska.

“Heeem Ta. Aku pengen…” Reni men-suport.

“Iya…bener banget. Kan dah lama kita nggak hang out bareng. Cuma di rumah aku…terus, kan bosen.” Andin menambah.

“Yak betul itu. Apalagi ini kan malam minggu pasti rame.” Kata Reni tak sabar.

“Aduh…gimana ya…aku nggak bisa nanti si Rian mau ngajak aku nonton. Kalian tahu kan, kita nggak pernah nonton.” Tolak Dita saat itu.

“Ya…Ta masak hanya untuk hang out ama kita ja kamu nggak bisa sih.” Kata Andin.

“Bukannya nggak mau, tapi aku kan sudah buat janji sama dia.”

“Tapi kan kalian dah sering ketemuan kan?” kata Siska kesal.

“Iya, Sis…tapi aku dah terlanjur janji ama dia.”

“Dit, masak kamu tega banget sih ama kita. Ya udah terserah kamu aja sekarang.” Andin berkata dengan hati yang panas.

“Tapi kan…”

“Tapi apa Dit… kamu dah janji ama Rian??? Kamu takut ama dia, tinggal batalin aja janji kamu sama dia, dan trus kita hang out bareng kan enak.” Andin terus menyudut Dita.

“Bener apa yang dikatakan Andin. Kamu takut ama dia?!!! Yang bener aja…” kata Siska sinis.

“Udah, udah, biarin aja Dita nonton ama Rian, mereka kan nggak pernah nonton bareng.”

“Apa Ren, kamu belain dia. Yang jelas-jelas dah ngepentingin kepentingan dia sendiri daripada kepentingan persahabatan kita.” Andin tambah marah.

“Bukannya gitu, kita kan dah sahabatan 11 tahun. Kita dah sering jalan bareng. Masak ngijinin teman kita mau nonton ama cowok sekali aja nggak boleh.”

“Oh…gitu. Kamu sekarang ama Dita. Belain aja terus.” Reni berkata dengan nada sedikit keras.

“Bukan gitu, beneran aku nggak sekongkol ama Dita. Cuman ngijinin sekali aja nggak boleh.”

“Udah…Ren! Biarin aja aku diginiin.” Dita angkat suara setelah diam dengan tetes air mata terus mengalir di pipi halusnya.

“Biarin aja Dit, kamu boleh nonton ama cowok kamu. Kita nggak papa. Lain kali hang out bareng.” Kata Reni dengan suara lembut sedikit keras.

“Iya! Itu menurut kamu, kita nggak!!” Andin tetap marah.

“Bener apa kata Andin. Aku nggak ngijinin kamu nonton ama cowok kamu tu si Rian.” Siska juga menambahi panasnya pertengkaran itu.

“Tapi Sis, Dita kan dah janji ama Rian. Kan ngga enak kalo dibatalin.” kata Reni.

“Ya udahlah…terserah kamu Dit! Kamu lebih mentingin siapa? Kita apa cowok kamu!” Andin tetap pada pendiriannya.

“Ya…kalau kamu mentingin cowok kamu, bubar persahabatan kita!!!” secepat kilat Andin mengucap kata itu.

“Rina!!!” jangan ngomong sembarangan!” Reni menenangkan.

“Ya udahlah Ren. Jangan sok care sama kita. kamu kan di pihak Dita. Kamu cuman temen Dita doang.” Siska langsung keluar dari rumah Andin dan pulang.

Kemudian Andin langsung masuk kamar. Sementara Reni dan Dita hanya terdiam di ruang tamu rumah Andin.

*****

Dua hari kemudian. Saat mereka berangkat sekolah. Tak ada yang tertegur sapa. Siska berangkat dengan Andin, Dita berangkat sendiri tidak dengan cowoknya. Sementara itu, Reni sudah berangkat lebih awal dari ketiga temannya.

Dita masuk kelas yang kelasnya sama dengan Reni. Dengan wajah kusut, mata bengkak. Dita duduk di sebelah Reni yang sedang mengerjakan PR Matematikanya.

“Dit, kamu kenapa?” Reni menghentikan kegiatannya saat melihat sahabat karibnya bermuka masam. “Nggak pap…papa kok.” dengan suara sedikit bergetar hendak menangis Dita menjawab pertanyaan Reni.

“Dit, jujur aja ma aku kenapa?”

“Rian, mutusin aku.”

“Kok bisa?”

“Soalnya pas malam minggu kemarin aku batalin janji kita nonton bareng.”

“Kok gitu. Aku kan dah bilang nggak papa.”

“Tapi aku nggak enak ama kalian. Kalian kan sahabatku.”

“Dita…nggak papa. Trus gimana. Kamu bener dah putus?”

“He’em…hehehehe.” Tangis Dita pecah setalah beberapa menit lalu tertahan.

“Udah Dita. Udah jangan nangis dong. Aku ikut sedih ni…”

Ketika Reni memeluk Dita yang sedang menangis. Andin dan Siska lewat kelas mereka, dan melihat Dita sedang menangis. Sejurus Andin iba melihat hal itu. Namun karena gengsi, diapun terus melanjutkan langkahnya menuju kelas. Sesampainya di kelas, Andin dan Siska memperbincangkan hal yang baru mereka lihat. “Rin tadi kamu lihat nggak Dita nangis?” Andin mengawali.

“Lihat. Mang kenapa?? Biasa perutnya lagi sakit.”

“Nggak, tapi aku lihat Dita sedih banget.”

“Udah deh biarin aja.” kata Siska sinis.

“Aku kan jadi kasihan ma Dita.”

“Udahlah Ndin, nggak usah dipikirin.”

Percakapan mereka terhenti saat Bu Dewi masuk kelas.

*****

Bel istirahat berbunyi. Reni menuju toilet. Tiba-tiba di belakang Andin yang menarik tangan Siska berlari menuju Reni.

“Reni, tunggu.” Andin memanggil Reni.

“Andin, jangan tarik-tarik tangan aku gitu dong, sakit…jangan cepet-cepet,” Siska mengeluh. Tia pun menoleh ke belakang. “Eh, Andin ma Siska. Ada apa?” kata Reni dengan ramah.

“Ren, tadi aku lihat Dita nangis, kenapa??” tanya Andin.

“Ya…aku kirain kamu narik-narik aku ada apa, eh…ternyata mau tanya soal Dita doang?!” Siska kesal.

“Sis, diem dulu!!” perintah Andin. “Kenapa Dita bisa nangis??”

“Oh…kalian mau tahu kenapa Dita nangis. Gini loh…” Tia mau menjelaskan .

“Aku sih, nggak!!” kata Siska sinis.

“Siska, Dita tu sahabat kita.” Andin secara tidak langsung menyuruh Siska diam.

“Tia, udah ceritain!!!”

“Gini loh, soal malem minggu kemarin. Dia tu batalin janjinya sama Rian. Eh, Riannya malah ngamuk. Katanya dah dibeliin tiket. Trus Dita nggak menghargai usaha Rian. Ya…malah Rian mutusin Dita tanpa sebab yang jelas.” Reni menjelaskan panjang lebar.

“Aduh…kasihan banget si Dita.” Kata Andin memelas.

“Udahlah Ndin, nggak usah lebay. Itu kan salah dia sendiri ngapain ngepentingin cowoknya dari pada kita.” kata Siska judes.

“Sis, jangan gitu dong…dia sahabat kita. Susah seneng kita bareng…” Reni menambahi. Bel masuk pun berbunyi, mengakhiri  percakapan mereka.

*****

Jam pulang berbunyi.

Reni pulang bareng Dita. Sampai gerbang Andin dan Siska menunggu mereka.

“Reni, Dita tunggu…” Andin memanggil mereka. Reni dan Dita menghentikan langkah.

“Ada apa Ndin?” tanya Reni pada Andin. Dita hanya diam di sebelah Reni.

“Gini loh…aku mau minta maaf sama kamu Dit…” Dita yang tadinya merenung menunduk tanpa semangat, menegakkan kepala dan mulai tersenyum. Namun, Siska dengan wajah jutek diam tanpa ada kata maaf untuk Dita.

“Udah nggak papa… Aku seneng kita bisa bareng lagi.” Dita senang.

“Siska, ngomong dong…” Andin menyenggol-nyenggol badan Siska.

“Ya udah, aku juga minta maaf.”

Yang tadinya wajahnya jutek, Siska lama-kelamaan wajahnya merah dan mengeluarkan air mata.

“Dita, maafin aku. Aku udah salah sama kamu.” Siska meraih tubuh Dita dan memeluknya.

“Udah nggak papa…” Dita membalas.

Sejenak semua terdiam. Namun tanpa dikomando mereka saling berpelukan dan persahabatan pun terjalin kembali.

Persahabatan tetaplah persahabatan walau ada pengecoh satu namun tetap bertahan sampai kapanpun.

*****

 
12 Comments

Posted by on 01/02/2010 in Cerita Pendek

 

Tags: ,

12 responses to “ARTI PERSAHABATAN

  1. faruq

    03/02/2010 at 6:09 AM

    wah, ceritanya jeren, aku jadi terharu sama kelakuan mereka…
    lebih mementingkan persahabatan….
    jadi kangen ama sahabat masa kecilku, udah 9 tahun lebih berpisah dengan mereka…

     
  2. mauren

    06/02/2010 at 7:30 PM

    nice sob, tapi panjang banget ceritanya :)
    ehehheee :p

    salam blogger :)

     
  3. vaepink

    06/02/2010 at 9:42 PM

    Sahabat itu seperti potongan puzzle, mereka punya tempat masing2 dihati kita dan enggak mungkin bisa tergantikan sekalipun mereka sudah pergi… :D

    Makasih yah sudah mampir ke blogku… :)

     
  4. Batak Song

    06/02/2010 at 9:59 PM

    Sahabat tak selamanya jadi sahabat, kadang kala bisa jadi racun juga…..

     
  5. Lengka

    31/03/2010 at 3:24 AM

    nice place to get a new atmosphere here, just wanna say you’ve a good skill seen on your post, really, I like it very much…keep blogging my Brada!!!

     
  6. Walasa

    31/03/2010 at 3:25 AM

    hi…slamat pagi, blognya keren, tulisannya juga bagus-bagus, aku bookmark dulu ah…thank you yaa…salam :D

     
  7. Juliet Grant

    27/05/2010 at 4:19 PM

    If I had a quarter for each time I came here! Great writing.

     
  8. dafiDRiau

    23/06/2010 at 10:22 AM

    Lagi-lagi mengharuhkan!!!

     
  9. hendraparlindungan

    28/02/2011 at 2:06 PM

    sangkuriANG

     
  10. zie

    02/11/2011 at 2:11 PM

    i like it,,,,ak blh bookmark blh y,,,

     
  11. Kinandt

    01/12/2011 at 6:52 PM

    Kerendt n terharu banget bacanya ..

    Tapi knapa nama tokohnya brubah* ??

     
  12. Jelly gamat luxor

    10/07/2012 at 9:10 AM

    keren… :’)

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: