White Blood

White Blood

Mata ini sungguh berat melawan rasa yang tak tertahankan ini. Tak kuasa lagi aku menahan mata ini untuk terus terbuka. Kulihat tulisan di bukuku yang ada persis di hadapanku, lama-lama semakin tampak buram dan akhirnya tak kelihatan karena aku telah menutup mataku. Sebentar aku tersadar bahwa aku baru saja terlelap. Aku berusaha tetap membuka mataku dengan sekuat tenaga. Tetapi tetap saja pula tak mampu menahan rasa ini. Tanganku yang masih memegang pena itu mengarah ke meja. Kemudian menyusul kepalaku bertumpu pada tangan kananku. Di atas buku-buku yang masih berserakan aku terlelap tidur.

“Kreet, kreet”

Suara itu membangunkanku dari tidurku. Sedikit demi sedikit ku buka mataku. Pena yang tadi ku genggam, kini tak ada lagi di tanganku. Aku berdiri dan ku angkat tanganku ke atas untuk melepas beban yang ada padaku. Sesaat itu mataku tertuju pada meja. Ku lihat sebercak merah ada pada bukuku yang putih itu. Tampak jelas sekali bercak itu di bukuku. Aku mendekatinya dan kuambil bukuku. Aku mengamatinya.

“Darah??” aku bertanya pada diriku sendiri.

“Kreet, kreet.” Aku mendengar suara itu lagi. Ku cari sumber sumber suara itu. Sepertinya memang dari luar. Maka ku buka jendela kamarku. Setelah berhasil kubuka jendela itu. Aku mengarahkan mataku ke kanan kemudian ke kiri. Ku lihat pakaian putih kurang lebih lima meter dari arah mataku yang tampak seperti melayang-layang. Kututup dengan segeraa jendela itu lalu aku menguncinya kembali.

Seperti ada yang membisikanku bahwa aku harus menuju kepada yang kulihatnya tadi. Kaki ini dengan sukarela melangkah. Aku keluar dari kamarku. Lalu keluar dari rumahku melalui pintu belakang. Apa yang kulihat tadi itu masih ada di sana. Suasana angin kencang yang dingin menemani langkahku. Dengan agak keraguan kulangkahkan kaki ke arahnya. Aku mencium wangi bunga dari apa yang kulihatnya itu. Semakin dekat semakin  jelas wanginya. Lalu, kuambil jemuranku itu dari gantungannya yang baru ku cuci tadi pagi.

“Hmmm, wanginya.” Kucium baju putihku itu. Aku masuk ke dalam kamarku. Kulihat sesuatu pada baju putihku.

“Apa ini?” aku melihat bercak merah pada pakaianku itu. Seperti apa yang ada pada bukuku. Aku membawanya ke kamar mandi untuk membersihkannya dengan mengusapinya air sedikit-sedikit. Lalu ku kembali ke kamarku.

“Kenapa ada darah di sini?” aku bertanya-tanya. Aku melupakannya. Aku melipat pakaianku. Dan, ketika aku melihat kaca lemariku, apa yang kulihat dalam kaca lemari itu. Aku mengerutkan dahiku. Ternyata, aku menderita sariawan yang tak juga sembuh pula. Pantas saja buku yang kujadikan tempat tidurku itu berdarah. Dan pakaian putih yang kucium wanginya itu juga berdarah.

*****

Jarum jam menunjukkan bahwa waktu masih jam 09.00 malam. Tapi, tak tahu kenapa aku begitu merasa ngantuk tadi itu. Aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku yang terputus-putus. Seperti biasa aku selalu berdoa terlebih dahulu sebelum tidur.

Belum sempat aku tertidur, aku mendengar suara dari pintu depan rumah. Sepertinya ada seorang yang masuk. Aku bergerak menuju ke arahnya. Tapi ibu mendahuluiku. Ternyata Mas Tono. Tanpa permisi Mas Tono masuk ke rumah dengan tergesa-gesa. Dia mengambil sesuatu, lalu terburu-buru keluar lagi. Tapi ibu menghalanginya.

“Mau kemana kamu?” ibu menghalangi Mas Tono.

“Ah…tak kemana-mana”

“Pasti kamu mau main judi lagi ya?” ibu sudah tahu kebiasaan Mas Tono yang tidak ada gunanya itu.

“Memangnya kenapa?”

“Kamu berjudi lagi, buta kamu nanti.” Ibu sepertinya benar-benar marah. Matanya tajam dan penuh kesedihan. Sedangkan Mas Tono seperti tidak mempedulikan perkataan ibu, dia segera keluar. Sepertinya Mas Tono menuju ke tempat biasa dia berjudi. Aku kasihan pada ibu. Dia tak tahu lagi bagaimana cara menyadarkan anaknya itu.

“An!, lihat tuh kakakmu!”

“Iya bu. Sebaiknya kita masuk lagi ya!”

Ibu melangkah masuk ke rumah lalu duduk di kursi ruang tamu. Aku menyusul menemani ibu. Tidak terjadi kata-kata diantara kami. Sekitar sepuluh menit kemudian tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Lampunya mati.

“An!” sebaiknya kamu jemput kakakmu sana. Perasaan ibu nggak enak!”

“Kenapa bu?”

“Sudah cepat kau ke sana.”

“Iya bu.”

Aku bangun dari tempat dudukku dengan hati-hati. Aku melangkah dengan lambat dengan tangan meraba-raba benda di sekitarku. Kutemukan pintu depan. Aku membukanya. Di luar rumah tampak tidak terlalu gelap karena ada cahaya bulan malam. Aku melangkah pergi dari rumah. Aku sudah tahu dimana Mas Tono biasa bermain judi. Aku segera menuju ke tempat itu. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Maka aku sampai di tempat itu.

Seperti di tempat-tempat lain. Tempat itu juga gelap gulita. Aku membuka pintu depan tempat itu. Setelah berhasil membuka pintu aku masuk ke dalam. Aku meraba-raba benda di sekelilingku. Ku coba memanggil Mas Tono.

“Mas Tono.” Aku memanggilnya.

“Oh apa yang terjadi.” Kudengar suara itu tidak lama setelah aku memanggil Mas Tono. Aku tahu itu suara Mas Tono. Aku segera mengahampirinya. Kulangkahkan kaki dengan hati-hati.

“Mas Tono kau tidak apa-apa?”

“Gelap sekali. Kenapa gelap sekali. Oh tidak aku telah durhaka pada ibuku.”

Aku teringat pada pembicaraan Mas Tono dengan ibu tadi bahwa Mas Tono akan menjadi buta jika dia tetap bermain judi.

“Ya Allah, aku telah durhaka pada ibuku. Inikah kuasaMu. Kenapa aku begitu bodoh dan benar-benar bodoh. Ya Allah ampunilah aku.” Mas Tono terus berkata-kata.

“An! Kau ada di mana? Antarkan aku pada ibu An! Aku tak bisa melihat apa-apa. Aku akan meminta maaf pada ibu.”

“Iya.”

“An, apakah ibu mau memaafkanku?”

“Tentu saja, kalau Mas Tono memang benar sungguh-sungguh.”

“Iya, An. Aku sungguh-sungguh. Jika suatu saat nanti aku bisa melihat kembali aku akan membahagiakannya.”

Aku menuntun Mas Tono keluar. Padahal sebenarnya aku juga susah mencari jalan.

“Byar! Lampu menyala kembali. Mas Tono keheranan.

“An, yang tadi itu mati lampu ya, An!” Mas Tono bertanya.

“Iya.” Aku menjawab.

“Kenapa tidak kau katakan bahwa itu hanya mati lampu?” dia menatapku.

“Itu adalah peringatan dari Allah, sudah saatnya Mas Tono bertaubat.” Aku menasihatinya.

“Untung baru mati lampu. Mas Tono masih diberi kesempatan. Mas Tono juga sudah merasakan bagaimana perkataan yang keluar dari seorang ibu bisa jadi kenyataan. Sudahlah ayo kita pulang.”

Kami pulang ke rumah dengan hati-hati. Tidak lama kemudian akhirnya kami sampai di rumah.

“Assalamu alaikum.” Lalu kubuka pintu depan rumah.

“Waalaikumsalam.” Ibu menjawab. Mas Tono berlari dan memeluk kaki ibu yang duduk di kursi.

“Ibu, maafkan aku!”

“Kenapa tiba-tiba minta maaf. Apa yang terjadi padamu?” ibu bertanya penuh selidik.

“Aku baru saja mendapat peringatan dari Allah.”

“Apa maksudmu.” Ibu masih belum mengerti. Mas Tono masih memeluk kaki ibu dan sekarang jadi diam. Maka aku yang menjelaskan kepada ibu kejadian yang baru saja terjadi. Kusampaikan urutan kejadiannya dan akhirnya ibu mengerti.

“Alhamdulillah, Ya Allah, Engkau telah mengabulkan doaku.” Ucapan syukur dari ibu.

“Sekarang kau juga minta maaf pada adikmu, karena kamu juga banyak salah pada adikmu.”

“Aan, maafkan aku ya, An. Aku sering menyusahkanmu. Aku sering mengganggu belajarmu. Ku harap kau tidak seperti aku yang hanya membuat susah orang tua. Belajarlah, raih cita-cita dan buat bangga orang tua.”

“Iya Mas Tono, yang penting sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya, dan semoga kedepan juga lebih baik.”

*****

4 thoughts on “White Blood

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s