White Blood

White Blood

Mata ini sungguh berat melawan rasa yang tak tertahankan ini. Tak kuasa lagi aku menahan mata ini untuk terus terbuka. Kulihat tulisan di bukuku yang ada persis di hadapanku, lama-lama semakin tampak buram dan akhirnya tak kelihatan karena aku telah menutup mataku. Sebentar aku tersadar bahwa aku baru saja terlelap. Aku berusaha tetap membuka mataku dengan sekuat tenaga. Tetapi tetap saja pula tak mampu menahan rasa ini. Tanganku yang masih memegang pena itu mengarah ke meja. Kemudian menyusul kepalaku bertumpu pada tangan kananku. Di atas buku-buku yang masih berserakan aku terlelap tidur.

“Kreet, kreet”

Suara itu membangunkanku dari tidurku. Sedikit demi sedikit ku buka mataku. Pena yang tadi ku genggam, kini tak ada lagi di tanganku. Aku berdiri dan ku angkat tanganku ke atas untuk melepas beban yang ada padaku. Sesaat itu mataku tertuju pada meja. Ku lihat sebercak merah ada pada bukuku yang putih itu. Tampak jelas sekali bercak itu di bukuku. Aku mendekatinya dan kuambil bukuku. Aku mengamatinya.

“Darah??” aku bertanya pada diriku sendiri.

Continue reading